Elegi Tentang Jarak & Sebuah Kehadiran

1.
Seandainya aku pernah tahu sebuah alasan
Detik-detik sebelum kau buat keputusan itu
Sebelum kata-kata runcing menancap
Dalam semesta yang isinya hanya bunga & masa depan
Aku akan menyambut segala perihal drama
Yang tak pernah aku tanda tangani sebelumnya

Seandainya kau tak pernah bermalam
Bersemayam dalam sebuah takdir asing
Kau sudah tahu, tapi tetap melakukannya
Dalam buaian ketidakpastian yang selalu menipu dirimu
Aku tahu kau tak ingin lagi hidup
Dalam lingkaran yang terus menghantuimu

Tapi sayang, nyatanya aku tak pernah hadir
Dan diikutsertakan dalam permainan egomu sendiri.

2.
Hari-hari selalu kau sematkan dengan panjang
Dari tidurmu yang lelap habis memakan waktu
Sebelum kau ucapkan selamat tinggal pada sabtu,
Minggu sudah datang menghampirimu

Mereka bingung,
Wisata rasa macam apalagi
Yang hadir tanpa peta ini?

Kau berusaha mencari jejak-jejak
Yang hari ini kau yakini benar dan esok ternyata salah
Tak pernah ada kepastian tentang cinta
Hidup dibawah payung orang lain
Tapi bergumam tentang kemenangan sendiri

Dibuatnya sebuah peta yang mungkin
Tak pernah ada rasa konsistennya
Semuanya dirasuki diambil sari-sarinya
Lalu ampasnya dijadikan pengalaman

Memang terkadang, pengelana baru
Membuat tanda-tanda bermakna haru.

3.
Hari sudah tak benderang
Dan surya belum waktunya kau singgahi
Tikus-tikus sudah berkeliaran
Juga laron sudah ada di lampu-lampu tetangga
Disini hanya ada aku berselancar maya
Dan kau terlihat sangat tidak peduli

Kau tak percaya lagi ini sebuah malam,
Yang hakikatnya perlu dirimu maknai tentang hukum alam
Hidupmu hanya 19 jam, pusing dan berkeringat
Berkutat buku, tertawa riang tanpa pengecualian

Mungkin kau tak butuh lagi aroma rindu
Yang sehabis hujan; tanahnya selalu wangi sendu
Dalam jendela kecil sebuah ruang
Kau tahu pasti rasa apa yang telah kau tuang.

4.
Seandainya aku tahu sebuah alasan
Tentang mengapa ini begitu dan mengapa itu begitu
Meski dengan mengetahuinya
Tak pernah ada garansi untuk aku merasa lega
Maka ada banyak hal yang perlu dibiarkan jadi belenggu

Nyatanya, ia selalu hadir
Dalam setiap deritaku, juga setelah kepergianku
Mahkota lain sudah hinggap tak kasat mata diatas kepala orang lain
Yang dulu aku kira tersangka, hari ini jadi pahlawan terbaikmu
Mungkin kata-kata tak akan pernah membuatmu mengerti
Mengapa perih ini pekat tak berbelas kasih

Setelah lama kau hadir
Tak satu pun kata yang dapat mewakili diriku
Sempat ada diruang itu

Sayang, aku tak pernah benar-benar hadir
Bagi teman dekatmu, orangtuamu & dirimu.

5.
Aku tanam jarak & kehadiranmu
Jadi sebuah arsip mengenai suatu waktu
Saat yang mati menjadi hidup
Saat rindu jadi batu

Aku telah menjadi batu yang bisu
Punya banyak rasa & cerita,
Tapi tak lagi mampu menebus waktu
Untuk bersamamu.

Nanti, batu akan berubah jadi kristal
Yang ditemukan ceritanya lalu dipintal
Dalam sebuah buku mengenai mental
Kelak menjadi esensi dunia yang paling vital