Kisah Kasih Si Perancang

aku dan kamu rupanya entitas yang berbeda
sudah nalarku memposisikan dirimu
dalam sekat hati yang berbeda
pada akhirnya, kita tak sengaja bertemu
seperti ide yang hilir mudiknya tak menentu
ruang kosong disela-sela jari pun kini bahagia

lambat laun semua jadi harmoni
atas semua definisi dan tafsiran warna
baik secara visual maupun psikologi
seperti yang telah tercetak, tak bisa semena ku hapus
wangi keringatmu unik, seperti bau kertas yang memberangus

seperti tinta, yang kau lakukan hanya memberi jejak
atas kemarin yang selalu tak ingin kusudahi
kadang aku harus coba pada tiap kerning
agar menjadi tahu, baiknya dekat sekali, atau jauh sekali denganmu
walau kadang hanya penat dan bayanganmu yang menghantui
memori yang menyimpanmu terlalu banyak,
yang menurutku, tak perlu lagi direvisi

rancangan hebat yang tembus waktu
memang selalu sulit—seperti sama-sama merancang relasi
semua tergantung pengetahuanmu
dan referensimu kesiapanmu dari otak sampai hati

kini aku berpikir, sepertinya rancangan memang tak pernah
akan ada yang sempurna, terkecuali buatan yang Maha
meski sulit aku cari, sepertinya, mungkin ia akan datang lagi
karena aku menyimpulkan, yang terbaik bukanlah yang sempurna
tapi rancangan yang tepat guna

aku tak akan pernah lelah untuk terus merancang
karena dalam tiap tekadku memerangi kegelisahan
hanya ada bentuk, warna dan komposisi mengenaimu
kenangan dalam angka, angan-angan dengan seluruh tafsiran imajinasi
yang mungkin anak teknik & klien belum dapat mengerti.

akan kujumpai lagi, pasangan huruf yang cocok dengan kertas ini
yang senantiasa menuturkan komunikasi lebih baik lagi
tak hanya indah, juga berkonten relevan agar maknanya hakiki
untuknya aku selalu berdoa, doakanlah perjuangan kami
agar terus menginspirasi dan memperbaiki regenerasi
seperti tiap cetak ulang, selalu ada catatan pinggir yang menghiasi

pekerja immaterial seperti kami,
baiknya jangan diajak bertemu di destinasi
tapi genggamlah tangan ini, mari berjuang bersama
atas nama proses menghargai.


aku dan kamu awalnya tak mengerti, lalu kita bertemu.
setelah mengerti, kita beranjak pergi, memberi ruang pada pencarian eksistensi
aku telah membekalimu, kau telah membekaliku.
ujung kita boleh saja berbeda, tapi rasa cinta masih sama dengan merancang:
kita harus tau mengenai why, lalu jawab menggunakan how.