Kritik

kritik-kritik yang usai direvisi

astaga

aku apatis dengan kehidupan yang nyaman
kehidupan tak ada yang benar-benar nyaman toh?

kita keluar dari zona nyaman untuk mencari zona nyaman yang lainnya kan?

ia pikir hidup tak perlu proses bernafas?
ia pikir hidup tak perlu proses respirasi?
ia pikir hidup hanya perihal meminta doa?
ia pikir hidup hanya mengejar keinginan?
ia pikir hidup hanya mencuri perhatian?

di dunia ini yang paling kita percaya adalah diri kita toh?

ia membunuhku sejak dari lalu
dengan cara mengasihani

kadang daripada kejujuran brutal yang terlontar fasih dari hati dan kesadaran
kita masih memilih balutan gula dikaratnya besi kata-kata kan?

semua mencari aman
semua mencari mapan
semua gila untuk dipercayai orang
semua ingin diangkat
semua mencari pangkat
semua ingin memperdaya
semua ingin mengarahkan

diantara misi-misi mulia versimu itu,
kita memang sering lupa bermain kok.
bagi yang sudah dewasa, nggak usahlah main-main lagi! main cuman buat anak-anak!

juga, meskipun dia lebih atletis, punya peran, naik mobil, terkenal dan berkarisma kuat
bukan berarti tetap menjual murah harapan kosong dengan teknik victim blaming kan?
memang banyak kok yang mengaku intelektual bisa 10 bahasa dengan prestasi segudang
tapi tak pernah belajar mengenai makna komunikasi, empati, respect dan persoalan dignity.

hah?

sudah punya calon istri tapi tetap “sahabatan” dengan yang lain?
gagal menikahi seseorang tapi tetap salip-salipan dengan embel-embel “teman”?
ya, judulnya juga kritik.

mari kecam, bungkam yang negatif dan jadi lebih baik lagi.
kesetiaan cuma sikap, perbuatan atau apapun cara buat menjaga diri dari apa yang dipercayai.

setia pada perubahan bukan berarti bersisikukuh dan tidak punya pendirian.
mungkin kritik sengaja dibangun untuk menguji struktur kepercayaan.
seperti angin besar yang terus menguji tumbuhnya pepohonan.

kita percaya semakin ditempa kritik dan revisi semakin kuat kan?
cuma, jangan dibiasakan saja bikin slideshow 2 jam sebelum presentasi.

kecuali emang dadakan. hehe.

.
ada juga ini, perihal anak yang nggak pulang-pulang. emang orang tuanya gak nyariin?
sudah 25 tahun bukannya berpikir untuk menikah dan kasih cucu, malah buku & internet aja terus.
kuliah dkv malah yang diurus klien terus, libur malah nonton film seri.

ayolah! berbicaralah! tulislah yang kamu pikirkan!

jangan hanya menerima kritik atau revisi saja ya, coba beri kritik dan revisi pada diri juga sekali-kali.

hidup adanya diluar UI photoshop.