Suatu Pekerjaan Lepas

Meski setiap hari aku selalu menyempatkan diriku untuk memikirkanmu, walaupun lamanya—selalu fluktuatif, aku sudah tahu ini adalah pekerjaan yg sia-sia. Dengan hanya memikirkan indahmu, aku bukan tuhan yang bisa mencipta hidup atau mungkin dengan memikirkan salahmu, aku juga bukan tuhan yang bisa menghukum dan mengutuk. Supaya aku bisa terus bertahan demi menghidupi diri, seterusnya, aku sempatkan mempertahankanmu.

Ini bukan mengenai apa-apamu, tapi mengenai sejumlah entitas yang ku dapat yang mungkin telah terlanjur kunilai terbaik. Ya wajar saja, kita seorang manusia, tak bisa memungkiri sebuah keindahan. Tapi.. apa ya, yg membuatmu itu indah? Apa itu indah? lukisan vincent van gogh? atau alunan musik dan kata-kata bon iver? Apa iya itu keindahan yang selamanya menenangkan?

Mungkin kau bisa terka, atau selamanya menimbang, mana kandidat atau mana yg bukan. Selama itu terus kau lakukan, selama itu pula aku terus memikirkanmu. Mungkin kita sudah berjodoh dijalan yg seperti itu, untuk tidak bersama, tapi seolah tahu, yang sama-sama berikrar dalam kesunyian kita yang masing-masing itu.

Pernah aku mencoba untuk berhenti dari pekerjaan yang sepertinya tak pernah membuahkan hasil itu. Pernah aku sangka bahwa inilah sebuah passion, sebuah kegairahan untuk tak hentinya memujamu. Aku coba buat surat resign yg isinya jpeg foto-foto kita. Aku ingin berhenti dari pekerjaan ini, tapi aku seolah tak bisa. Apakah karena memang ini bukan pekerjaan yang aku inginkan? Bagaimana awalnya aku bisa terus menerus bekerja untukmu? Mungkin benar, hidup adalah doa yang panjang. Maka dari itu, terus memikirkanmu, dan terus mendoakanmu, adalah harapanku yang terakhir. Meski saling tak peduli, siapa denganmu sekarang, atau dengan siapa pikiranmu sekarang, aku tetap berangkat untuk bekerja. Merapikan dan melebih-lebihkan biasamu, mengingat-ngingat wangi tubuhmu sambil meyakini diri sendiri, untukmu selalu aman.

Dua delapan sayatan jingga dalam pukul lima. Di depan jendela aku cumbu manis dirimu, Runa. Sambil terpejam dan menghayati, sambil berpikir aku mencari celah, sungguh bahagianya diriku ini, sampai tak bisa kubayangkan lagi, betapa celakkanya nanti, seberapa matinya aku nanti tanpamu. Kini, beginilah nasibku. Tak pernah ada satu kali pun isyarat, baik simbol atau tanda-tanda lainnya yang mengamini pekerjaan-pekerjaanku ini. Sampai pada akhirnya aku tahu, kini ternyata kau bukanlah bos-ku lagi. Kau sudah bekerja untuk orang lain. Di titik itulah, ternyata aku sudah diberhentikan dari pekerjaan memujamu. Beberapa kali waktu, aku rindu untuk bekerja untukmu lagi, memikirkanmu lagi, membuat puisi-puisi, lagu-lagu bahkan karya-karya dengan alasanmu. Tapi ah, tak pernah ada rasa garansi atau asuransi untukku pabila nanti aku bisa saja kecelakaan dalam memikirkanmu.


.
Semoga aku bisa lagi magang di tempat lain, dan kau..
semoga kau tak pernah bosan dengan pekerjaanmu!